Balada Pembuatan SIM

2 minggu yang lalu aku kehilangan seluruh isi dompetku (tepatnya dompetku). Aneh juga hilangnya di kampus (tepatnya disekitar himpunan). Awalnya aku rasa teman – teman yang ingin jahil sama aku (soale aku sering kelewatan juga jahil sama teman – teman). 1 hari aku masih nyantai, gak lapor, gak kasih pengumuman, sampai akhirnya aku benar – benar panik saat mulai kehabisan uang. Dan anda benar… dompetku hilang

Isi KTP, SIM, STNK Motor, ATM,KTM dan beberapa barang penting lainnya (uang ?? sedikit)

Sampai akhirnya hari ini aku mengurus SIM C dan KTP… Prosesnya benar – benar baik untuk KTP, 1 hari jadi. SIM (lebih cepat lagi beberapa menit saja, lama mengurus administrasi)
cuma sedikit aneh saja saat aku masuk ruang kesehatan, dimana hanya ditanya, tinggi, dan berat saja.,,, dan… mas 15.000 rupiah. Memang sih gak terlalu berat, hanya saja kalo ada orang yang sudah susah payah beli motor, ikut tes (kalo ada), dan mengurus macem2 harus ditambah beban (yang menurutku) 15.000 rupiah diganti oleh kertas keterangan “sehat” (tanpa diperiksa) kata orang – orang, hanya orang – orang yang ambil SIM baru mas yang dites…
Namun, jujur aja biaya 60 – 80 rb untuk pembuatan SIM harus ditambah dengan biaya yang lain, kenapa gak langsung 100rb untuk biaya pembuatan SIM dan kawan – kawannya. Biar enak totalanya …

Oya, sedia uang kecil donk bu, masak saya harus tukar ke tukang koran…

Leave a Comment

Partai v Telenovela

Melihat iklan partai politik yang beredar di masyarakat akhir – akhir ini tak ubahnya cerita telenovela. Dimana skenario dan ide cerita yang menyentuh bak tayangan sinetron yang dapat menghanyutkan hati publik.
Seperti iklan salah satu partai politik yang menampilkan penurunan harga BBM sampai tiga kali …. sampai tiga kali …. sampai tiga kali …. hehehehe…. atau iklan partai politik yang lain yang menampilkan rukunnya beberapa suku yang diawal tahun 1990 sampai dengan 2000 mengalami konflik karena jasa – jasa dari partai tersebut.
Menilik dari secuil cerita diatas, terlintas kalau semua kebijakan pemerintah ada ditangan partai politik tersebut. Perlu diingat, kebijakan pemerintah bukan hanya dari kedua partai politik tersebut. Karena yang duduk dimeja pemerintahan terdiri dari kader – kader partai politik yang lain. Atau memang ini memang salah satu tren yang ingin dimunculkan ke dalam pikiran masyarakat, bahwa kebijakan yang memakmurkan atau positif di mata masyarakat adalah dari partai tersebut.
Sungguh disayangkan apabila masyarakat dibodohi dengan mainstream seperti itu. Bukan pendidikan politik yang cerdas, dimana cara pendekatan dan menarik simpati rakyat seharusnya lebih mengedepankan apa yang dapat dilakukan sekarang, bukan sekedar mimpi – mimpi atau skenario yang lebih pantas mendapatkan Piala Citra dari perfilman Indonesia.

Leave a Comment

install DOSBox di Ubuntu

Mungkin dari beberapa teman ada pernah merasakan DOS ( Disk Operating System ). OS dari Microsoft yang cuma hitam dan putih mirip terminalnya Linux, atau sekedar nostalgia dengan game – game DOS seperti Prince of Persia, Cat, Lotus atau Prehistoric

Bagi mantan pengguna Windows yang beralih ke Linux, ada kesulitan ketika mengeksekusi file – file under DOS.
Tutorial dibawah ini mungkin bisa sedikit membantu,

1. Install Wine!!

beberapa distro linux secara langsung menyertakan, namun bagi pengguna ubuntu harus menginstallnya lebih
dahulu

safroni@anima:~$ sudo apt-get install wine

2. Install DosBox

dapat di download di http://www.softpedia.com/get/Programming/Other-Programming-Files/DOSBox.shtml
eksekusi file setupnya

3. Copy file – file DOS ke Drive C (Emulasi WINE)

misal /home/safroni/.wine/drive_c/games/

4.  Masuk ke console DOS Box’

masuk ke drive c
Z:\> mount c c:\
mounting C:\  (blaa…bla ….)
Drive C is mounted …

Z:\> C:
C:\> cd\games\lotus
C:\games\lotus\>lotus.exe (eksekusi file dosnya)

5.  Have fun!!

Leave a Comment

Padanan Di Linux (Ubuntu)

Mungkin artikel ini (sudah) usang, namun dari beberapa teman saya yang newbie masih ragu untuk migrasi dari Windoes ke Linux. Dibawah ini ada beberapa padanan yang mungkin dapat digunakan untuk mengganti program – program Windoes di Linux…

  • Pengganti Microsoft Office: OpenOffice (cukup lengkap & bagus) OpenOffice Writer & OpenOffice Spreadsheet
  • Pengganti Internet Explorer: ada Mozilla Firefox, Opera juga adaGMail di Mozilla Firefox
  • Pengganti Outlook/Outlook Express: Evolution (bagus nih kyk Outlook), Thunderbird
  • Pengganti ACDSee: Eye of Gnome
  • Pengganti Photoshop: GIMP (menunya mirip Photoshop versi jebod sih, tapi udah cukup ok lah kalo cuma mau ilangin red-eye, cropping, resample, atau apply filter).
  • Pengganti Winamp: Rhythmbox
  • Pengganti Windows Media Player/Cyberlink PowerDVD (pokoke keperluan nonton video): Totem Movie Player
  • Untuk chat MSN/Yahoo/GTalk: Pidgin, Yahoo Messenger for Linux juga ada
  • Untuk firewall: Firestarter
  • Antivirus: Tenang nggak ada virus di Linux, security systemnya jauh lebih baik daripada Windows. Kalopun perlu untuk ngescan dokumen, bisa pakai ClamAV, AVG Anti Virus, dan F-Prot Anti Virus
  • CD/DVD burner: GnomeBaker
  • PDF Viewer: Evince
  • Untuk diff/merge (pengganti WinMerge): Meld (bagus banget nih)
  • Page publishing (seperti Adobe PageMaker atau Microsoft Publisher): Scribus
  • Pengganti WinISO: ISO Master
  • RSS Feed: Liferea
  • Virtualisasi (pengganti VMWare): VirtualBox

dari berbagai macam sumber …

Leave a Comment

Gaya dalam Arsitektur

Gaya dalam Arsitektur diwakilkan dua hal, yaitu yang pertama adalah yang dapat diraba atau dalam bahasa Arsitekturnya wujud, mempunyai bentuk, fungsi dan teknik – teknik membangun serta keseluruhan dalam karya tersebut. Yang kedua adalah gaya yang tidak dapat dikenali, dalam pengertian interpretasi dan wacana yang mendukung adanya wujud Arsitektur. Wujud dalam tatanan Arsitektur hanya sebatas proses desain. Sehingga hal yang perlu digaris bawahi adalah penyaluran ide, pemikiran dari Arsitek.

Ketika melakukan perjalanan mendapatkan ilmu Arsitektur, baik dalam kuliah maupun dalam ”pencarian” di google. Kurang lebih ada 3 jenis kelompok gaya Arsitektur.

Yang pertama adalah gaya yang bersifat kultural, kedua adalah gaya yang bersifat referensi personal, dan terakhir adalah gaya yang bersifat ”universal”.

Dibawah ini adalah penjelasan ketiga gaya yang disebutkan diatas, saya kutip dari http://www.silaban.net/2001/04/22/gaya-gaya-arsitektur/ pada hari Selasa 13 Januari 2009 pukul 18.54.

Gaya Arsitektur Kultural

Gaya ini secara umum sering disebut gaya arsitektur tradisional dan perkembangannya adalah gaya arsitektur vernakular. Arsitektur tradisional lekat dengan tradisi yang masih hidup, tatanan, wawasan, dan tata laku yang berlaku sehari-hari secara umum. Bali, terutama pada daerah pedesaan dengan basis pertanian, menjadi saksi arsitektur jenis ini. Di kota-kota besar Bali, pada daerah yang berbasis pariwisata, lebih banyak kita saksikan arsitektur bergaya vernakular, seperti pada bangunan dengan tipologi baru yang tidak dikenal secara umum pada tataran tradisional, yaitu pada rancangan hotel, toko, dan sebagainya.

Arsitektur vernakular merupakan transformasi dari situasi kultur homogen ke situasi yang lebih heterogen dan berusaha sebisa mungkin menghadirkan citra, bayang-bayang realitas arsitektur tradisional. Rasa hormat pada tradisi “agung” dan “tinggi” biasanya cukup nyata pada arsitektur vernakular. Citra yang disajikan lebih banyak bersandar pada referensi arsitektur “rakyat” daripada terhadap bangunan keagamaan, bangunan milik bangsawan-penguasa dan sejenisnya. Referensi pada arsitektur “rakyat” yang secara fungsional sudah beradaptasi, jitu, teruji terhadap alam tempatnya berada, biasanya lebih memiliki kepekaan baik secara teknis, sosial, dan kultural.

Pada perkembangan mutakhir, di mana heterogenitas kultur menjadi dominan, arsitektur tradisional mengalami lompatan melampaui proses vernakularisasi, dan muncul dalam wujud eklektik (campur aduk) wujud tradisional, tanpa perduli pada tatanan, hirarki makna, pengertian yang terkandung pada wujud “asli”-nya. Kita bisa saksikan, masih di Bali, berbagai tradisi arsitektur, baik tradisi “agung” dan “tinggi”, bahkan juga dari berbagai belahan dunia, dari puncak-puncak kebudayaan sejagat disajikan dalam kehadiran baru di dalam kerangka kultur Bali kontemporer. Lihat saja daerah Kuta.

Gaya Arsitektur Personal

Indonesia sebenarnya mengenal banyak sekali arsitek atau kelompok arsitek yang memiliki ciri khas desain baik yang orisinal maupun pengembangan dari wujud, pemikiran dari pribadi atau kultur lain dari luar Indonesia. Yang sangat kurang adalah pencatatan atas prestasi dan karya mereka, suatu hal yang mengakibatkan buruknya apresiasi terhadap arsitek kita.

Kita kenal karya yang sangat banyak mempengaruhi alam arsitektur mutakhir kita. Beberapa nama yang pernah, masih, dan sedang berpengaruh, seperti almarhum Friederich Silaban dengan karya yang sangat memperhatikan kondisi klimatologis negeri tropis, sangat teknis dan kokoh. Kantor Pusat Bank Indonesia Jakarta, kompleks Masjid Istiqlal, dan gedung di Taman Makam Pahlawan Kalibata adalah peninggalan karya yang masih bisa diapresiasi dengan baik sampai saat ini. Almarhum Sujudi dengan bangunan monumental seperti Gedung MPR/ DPR, dan gedung kantor berpenampilan tipis-ringan-tajam, seperti Gedung ASEAN, kompleks Departemen Pertanian Pasar Minggu, Jakarta. Sie Fen, perempuan arsitek yang mungkin sudah merancang ratusan rumah mewah berlisplang ganda, dengan kaca lengkung ultra besar, dengan tangga agung melingkar di baliknya, dengan ide rumah “kapsul”, yang sempat menjadi referensi tipologis bagi rumah kaum berada tahun 1970-1980-an. Masih banyak lagi yang lain, juga di kalangan yang lebih muda, yang banyak menguasai jagad pembicaraan arsitektur Indonesia lima enam tahun belakangan ini.

Kesulitan terbesar bagi para arsitek dengan personalitas kuat adalah kesempatan memiliki portofolio yang cukup sebagai representasi gaya yang ditawarkannya. Masyarakat umumnya sering datang kepada arsitek dengan preferensi terhadap gaya yang sudah lebih mapan, terutama dari kultur atau arsitek negeri lain , terkadang tanpa pengertian yang cukup atas “kepantasan” gaya tersebut di alam tropis yang terang benderang, panas hujan tiada henti ini.

Gaya Universal

Usaha untuk menghadirkan satu gaya arsitektur untuk seluruh umat manusia, di berbagai tempat berbeda, secara sadar, propagandis, didominasi para arsitek Modernis akhir abad ke-19 sampai sekarang. Salah satu penggerak utamanya adalah revolusi industri, terutama industri konstruksi, dan meluasnya pemanfaatan energi listrik yang memacu pemanfaatan teknologi secara aktif di dalam bangunan. Situasi klimat yang berbeda, direspons dengan penggunaan teknologi secara ekstensif.

Salah satu gaya yang menyebar sangat luas dan hampir merata di seluruh dunia adalah gaya “international style” yang dinyatakan dengan tampilan bangunan berujud geometris murni, terutama kotak kaca-aluminium-dengan konstruksi baja atau beton yang dibangun berdasarkan ukuran standar modul industri konstruksi. Gaya arsitektur ini dilatari orientasi cost-benefit dalam rangka memacu percepatan penambahan jumlah meter persegi bangunan yang merupakan simbol “kemajuan” bagi zaman tersebut.

Arsitektur bergaya “internasional” muncul sekaligus sebagai reaksi terhadap gaya agung dan tinggi yang lekat dengan citra borjuasi. Sangat jelas penolakan terhadap citra historis, terhadap penggunaan elemen yang membutuhkan rancangan dan keahlian tangan khusus, untuk klien khusus yang berorientasi mahal secara ekonomis dan tidak mungkin dijangkau masyarakat kebanyakan. Arsitektur direduksi menjadi susunan elemen hasil industri yang standar, massal. Pada ekstremnya muncul diktum seperti ornament is crime (Adolf Loos), less is more (Mies Van de Rohe). Dan, simplifikasi form follows function (Louis Sullivan) ke dalam fungsionalisme, berhasil diujudkan dan menjadi arus utama arsitektur, bahkan sampai sekarang. Munculnya gaya arsitektur minimalis belakangan ini adalah perkembangan dari universalitas gaya tersebut.

Gaya internasional pada tahun 1980-an memperoleh reaksi dan berkembang wacana arsitektur postmodern yang justru mengajukan tawaran menengok kembali sejarah, menolak singularitas universal, bahkan menjajakan ide pluralitas arsitektur yang eklektis. Juga berkembang arsitektur dekonstruksi yang lebih berdasarkan pada wacana intelektual di luar arsitektur yang cenderung sulit dimengerti dan diapresiasi masyarakat umum. Pada tahap ini, arsitektur modern yang berusaha menghadirkan universalitas tampilan, lebih diwakili universalitas argumen, sehingga isu keseharian relatif tidak tersentuh.

Repotnya, hal itu justru mengembalikan arsitektur pada posisi elitis. The Grand and High Architecture imbasnya sudah terasa di Indonesia, namun terhalang krisis moneter yang cukup membantu kembalinya perhatian pada hal yang lebih prinsipil, berhubungan dengan investasi pembangunan, kemudahan perawatan, dan efisiensi fungsional, daripada sekadar mengada-ada dengan gaya arsitektur yang begitu beragam

Leave a Comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Comments (1)